Langsung ke konten utama

Mendengarkan

                                    

    Bicara tentang mendengarkan pastinya setiap orang punya cerita untuk dibagikan, entah untuk mendapatkan tanggapan, solusi, ataupun at least dia hanya ingin didengarkan oleh orang yang dia percaya untuk membagi cerita senang ataupun berkeluh kesah, orang yang diyakini empati dan peduli terhadapnya. Gak mungkin kan kita bercerita kesemua orang ataupun kepada orang yang tidak peduli, alih-alih mendapat tanggapan atau solusi malah mendapat jawaban seperti “ohh”, “yaudah”, “kamu kurang bersyukur”, “banyak yang lebih sulit daripada kamu”. Bukannya lega, tapi kita malah semakin bingung dan tertekan. Namun menurut aku itu semua terjadi bukan karena salah mereka, tapi salah kita sendiri yang sudah menaruh percaya pada mereka, aku rasa semua orang harus selektif dalam mencari partner, begitupun dalam hal bercerita, cobalah kita bercerita kepada orang yang tepat.

 

    Terkadang sakit yang kita rasakan bukan sepenuhnya salah kita, namun menyembuhkannya tentu bukanlah tanggung jawab orang lain. Dari situ aku menyadari bahwa hidup ini adalah seluruhnya tanggung jawab pribadi, kita tidak bisa selalu bergantung pada orang lain, sedekat apapun mereka dengan kita, tetap mereka juga punya kehidupannya sendiri.

 

    Kita hanya perlu hati yang leluasa dan kuat untuk bangkit sendiri, atau kita bisa saja menuliskan isi hati dan pikiran supaya bisa menjadi evaluasi untuk diri sendiri, terkadang saat aku menulis dan membacanya kembali, aku jadi tahu apa yang harus diperbaiki, bagiku menulis itu ibarat menuangkan segala yang berkecamuk dalam pikiran dan mengekspresikan sebuah rasa, tanpa harus peduli apa kata orang, yang penting kita nyaman dengan diri kita sendiri.

 

    Kalau kita nyaman dengan diri sendiri, pastinya kita akan lebih leluasa memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri dan memilih apa yang membuat mereka nyaman, tanpa perlu kita menyuruh orang lain untuk ikut seperti apa yang kita mau. Aku pernah membaca salah satu buku dan menemukan ini “Jika kita berbicara, kita hanya mengulang apa yang kita tahu, jika kita mendengarkan kita akan mendapa sesuatu yang baru”. Mana mungkinkan kita berbicara tentang apa yang tidak ketahui, bagiku mendengarkan sama halnya dengan membaca, kita akan mendapatkan hal baru dari membaca dan mendengarkan.

 

    Dalam hal berbicara, kita butuh daya pikir yang luar biasa agar apa yang dibicarakan bisa menarik dan membuat orang lain mau mendengarkan kita, kita butuh tenaga lebih untuk berbicara, itulah mengapa tak sedikit orang-orang lebih memendam ceritanya karena mereka lelah untuk bersuara.

 

    Jadi, bagiku mendengarkan adalah hal yang istimewa, selain kita mendapatkan hal baru, kitapun akan tetap rendah hati, karena jika hanya berbicara tapi enggan untuk mendengarkan, malah jatuhnya itu sombong. Sama halnya seperti kita duduk dikelas, jika kita mau mendengarkan sang guru maka kita akan mengerti dengan materi yang telah dipaparkan oleh guru tersebut, kemudian jika ada pertanyaan maka kitapun bisa untuk menjawab, berbeda dengan orang yang tak mendengarkan dan memperhatikan, maka jika ditanya ia tak akan tahu apa-apa.


Komentar